Gambar

PREPARING FOR NEXT SEMESTER

img_1790 Hari ini tepat tanggal 28 Februari 2017. From Yogya to Solo.

Tak terasa kini saya telah memasuki semester 6. Semester puncak dimana apabila kita lengah sedikit maka kita akan jatuh lebih sakit. Saya bukan mau mengeluh disini. Saya ingin berbagi cerita bagaimana perasaan senang saya.

Perasaan senang? Come on ges, this is the beginning, so kamu senang dari mana?

Semester kali ini ada banyak sekali mata kuliah berat yang nangkring di episode 6 perkuliahanku ini. Sebut saja Micro Teaching, Proyek Akhir, Catering, Tematik Boga, Metode Penelitian, Seminar Proposal Skripsi, dan Strategi Penilaian serta KKN. Tiba-tiba saya merasa menjadi Atlas yang kuat mengangkat bumi.

So, I’ll tell you all about my trip? Not trip. This is mengirimkan surat untuk observasi di salah satu SMK yang ada di Kota Surakarta, Kota yang pernah dipimpin oleh Presiden kita bapak Joko Widodo.

Pukul 6:15 pagi, kami (saya, Mama dan Rara) bertolak dari kos-kosan menuju Stasiun Lempuyangan kemudian menuju Stasiun Purwosari (Solo) dengan menggunakan Prameks (sejenis Commuter Line jika di Jakarta). Cukup bayar RP 8.000 saja sudah bisa menikmati perjalanan kecil dari dua kota yang dianggap kejawen/jawanya jawa. Hari ini kami tidak mendapatkan tempat duduk alias ‘ngadeg’ yaitu berdiri, hmmmm… pagi-pagi sudah upacara. Lumayan melelahkan kami berdiri sambil bercanda tawa kecil sampai dilihatin mbak-mbak sama ibu-ibu mungkin karena ngelihat kita pengen duduk banget tapi tidak mendapat tempat duduk sama sekali.

It is perjalanan ku kedua kalinya ke Solo setelah bertahun-tahun tidak pernah ke Solo. Mungkin saat itu usiaku sekitar 4 tahun sehingga tidak banyak ingatanku mengenai kota Solo ini. Kami memutuskan untuk menggunakan Taksi sebagai alat transportasi kami selanjutnya. Kami membayar RP 25.000 itu saja tarif normal jika jarak tidak mencapai target. Baiklah. I choose you Pak.

img_1763

Kami pun menuju sekolah yang akan menjadi tempat observasi sekaligus menjadi tempat magang kependidikan kami yaitu PPL (jadi guru gituuuu). Saya merasa semakin tua tetapi saya tidak pernah merasa lebih dewasa dari sebelumnya. Kenapa saya merasa masih usia SMA terus menerus jika dihadapkan denganproblematika bahwa saya sudah hampir di penghujung semester perkuliahan, Saya akan menjadi apa? Pertanyaan yang terus menerus membuatku pusing jika ada di seminar/pembekalan perkuliahan. Pertanyaan itu menampar saya berulang ulang kali.

Back to topic, setelah saya bertemu dengan pihak sekolah dan melakukan komunikasi kerjasama juga sharing kemudian kami pun selesai. What next?

You know lah, apalagi kalau bukan QULINERAN. Berburu makanan khas Solo yang belum pernah aku rasakan secara langsung, Selat Solo dan Nasi Timlo. Dari SMK kami pun pergi dengan taksi lagi menuju Pasar Nongko. Sedikit cerita, Solo ini juga terkena imbas dari penjajahan Belanda saat itu terutama dalam bidang makanannya, seperti Selat Solo atau lebih dikenal juga dengan nama Steak Jawa, ya memang seperti steak hanya rasanya jawa.

img_1776

Ini ada Nasi Timlo, dia itu mirip Soto sih menurutku. Ya karena ini pertama kalinya saya makan Nasi Timlo jadi pendapat saya ini sama dengan Soto, mungkin jika sudah sering menikmati akan dapat membedakan mana Soto mana Nasi Timlo.

Dan selanjutnya ada Selat Solo. Ya, dilihat saja sudah seperti Steak begitu ya bedanya kalau steak itu menggunakan Demiglace Sauce, yaitu saus yang terbuat dari roux yang dicampur dengan kaldu sapi yang rasanya amazing. Kalau ini sausnya apa yah saya kurang terlalu suka karena agak asam gitu seperti diberi saus tomat. But, overall its ok.

img_1770

Ini minumannya asli enak banget terutama yang Es Dawet. Dia pakai gula jawa asli jadi manisnya gak bikin batuk di tenggorokan dan kesegarannya bisa bikin saya dan teman saya membungkusnya untuk di kereta nanti. Untuk Es Kopyornya tidak rekomended sih menurut saya.

Nih kubagikan menunya, cukup murah menurut saya.

Oh ya BTW, Mulai 1 Maret 2017 di tempat ini harganya semuanya naik RP 500,- jadi beruntunglah kami datang di tanggal 28 Februari 2017 wkwkw sehari sebelum kenaikan. Ini adalah harga sebelum naik ya, besok tanggal 1 Maret 2017 harga naik.

Nah disini, akhir dari perjalanan pertama kami datang ke Solo. Nanti kami datang lagi untuk observasi dan insya Allah dapat PPL dengan baik di sana. Untuk menghemat pengeluaran, kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju Stasiun Solo Balapan. Sengaja kami memilih stasiun yang berbeda, saya pun ingin tahu seperti apa Stasiun yang jadi salah satu judul lagu Didi Kempot ini. Stasiun ini sedang mengalami perbaikan dan sepertinya akan menjadi lebih besar dan bagus dilihat dari bangunannya yang yaa bersih dan cukup nyaman.

Pukul 12:10 WIB, kami mulai meninggalkan Solo dan kembali menuju Jogja. Rasanya badan mulai lelah. Ngantuk tapi tidak bisa tidur karena seandainya tidur itu menurut saya terlalu cepat, karena perjalanan kami hanya satu jam. Biasa saya naik 3 jam dari Jogja ke Purwokerto bisa tidur lumayan lama, ini sulit sekali saking sejam saja.

Tak terasa sebentar lagi sampai di Lempuyangan. Kami bergegas pergi ke kampus untuk mengikuti matakuliah pada pukul setengah tiga. Dan….

Sampailah kami di kelas 210 ternyata jadwal kuliah ditiadakan. Deeeeeeep!!!!

Tau gitu, tadi mainnya diperpanjang. Huhuw

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Baiklah, terimakasih sudah membaca tulisan saya yang sangat antah berantah. Daripada saya cerita di twitter nanti membuat spam jadi saya cerita disini. Semangat KKN PPL teman-teman semuanya. Semoga lancar diberi kekuatan untuk menghadapi semuanya.

 

IN FRAME: WIWI, RARA DAN MAMA.

Pengulangan suku kata semua ya hehe