KOPI DAN KONTEN

Gak kerasa, tahun ketiga masa kuliah udah mau abis. Bakal ganti tahun keempat. Gimana ya, masa boleh menua tapi jiwa tetap serasa muda. Jadi gini…

Malam sabtu lalu, aku dan sahabatku Pipin memutuskan untuk mencoba satu kafe yang direkomendasikan oleh bang Bernard Batubara di Jogja. Buat yang suka nonton film bukan cuma luarnya aja alias tau dalemnya juga pasti tau siapa dia (read: Bang Bernard).

Awalnya, seperti biasa berkat sosial media terbaik dan terfavorit, ya Twitter. Aku adalah netizen/warganet yang lebih suka mendiami habitat Twitter ketimbang sosial media lainnya walaupun aku punya sosmed selain Twitter. Aku sering melihat cuitan Bang Benz di sosmed burung biru itu. Akhir-akhir ini, dia suka bahas kopi gitu. Dia banyak cerita tentang kopi dan beberapa kali merekomendasikan tempat ngopi yang asik buat ngerjain tugas dilihat dari segi kenyamanan tempat, wifi, lokasi dan harga. Namanya juga Yogyakarta, kota pelajar. Hampir bukan pemandangan asing melihat banyak tempat tongkrongan/kafe kelas bawah, menengah dan atas isinya manusia sama laptop masing-masing. Bahkan, sekelas restoran cepat saji di kota ini pun jadi tempat ‘nugas’. Mungkin bisa disimpulkan selama nyaman, banyak colokan dan wifi mandraguna maka disitulah akan menjadi tempat bersemayam para mahasiswa yang mencoba mengerjakan tugasnya karena boring mengerjakan tugas dengan suasana kampus atau kos yang memiliki ruang sempit. Oke, cukup…

Singkatnya, Bang Benz hari itu merekomendasikan Kuban Coffee yaitu salah satu kafe dengan menu perkopian. Aku dan Pipin segera meretweet dan berbalas tweet alias mention mengiyakan ajakan. Pukul 6.45 an kita otw ke sana. Yap. Sebenernya aku dah tau sih tempat ini cuman karena lokasinya di ringroad utara kan agak kurang menarik sama ku pikir mahal haha karena bangunan kafenya cukup unik sodara sodaraku… kalian bisa searching aja lah di mesin pintar terpopuler abad ini, ya Google.

Sesampainya disana, ku parkir sepeda dua roda buatan Jepang ini. Masuk ke lantai pertama, terdapat bar dan sedikit kursi dan meja lurus menghadap jalan raya ringroad yang ramai itu. Baristanya, untuk ukuran kafe ya ganteng wkwk. Menunya tidak terlalu banyak tapi spesifik sekali. Orang yang membaca menurut aku bisa tau gambaran menunya tidak menerka-nerka. Aku dan pipin pun pilih menu:

Tiramisu Latte dan Espresso

Untuk harga berkisar RP 20.000-an ya tergolong harga menengah tapi standar untuk harga sekelas kafe model begitu. Wifi kenceng lumayan, colokan banyak, cozy, nyaman, dan ga terlalu rame juga disapa udara malam dengan mesra. Hanya saja toiletnya not recomended sodara…

Kira-kira begitu gambaran tempatnya, jadi kafe ini bangunannya meninggi. Tidak ada lantai bawah yang ada lantai 1 dan 2. Jadi saat pertama kali datang, kita akan masuk dengan mnaiki tangga kemudian ada bar untuk memesan (Pay and Order Here) disitu juga terdapat tempat untuk menikmati kopi hanya terbatas. Setelah itu, menaiki tangga lagi dan itu adalah tempat yang tidak terlalu luas tapi cukup worth it buat mengekspresikan apa yang pengin kamu lakuin disitu. Kebetulan kita pilih tempat duduk dipinggir balkon agar bisa menikmati pemandangan jalan raya yang cukup crowded malam itu.

Kita ngobrol banyak hal, mulai dari bahas “why, kita dipertemukan dengan pandangan, pemikiran dan beberapa hal lain yang sama. Habitatnya sama-sama di twitter. Suka nulis juga, cuma aku agak kurang suka membaca novel beda dengan Pipin yang suka baca novel, bertukar ide pikiran, gagasan yang cukup berguna dan topik yang bukan melulu tentang sesuatu yang useless.

Hingga angka jam di laptop bergerak ke 22.30 WIB, kita mulai mengantuk dan yah kita memutuskan untuk pulang karena kita merencanakan untuk mengisi sabtu pagi dengan olahraga air. Sejak itu, kita mulai tertarik dengan dunia kopi. Bukan karena sedang nge-hits nya film Filosofi Kopi loh ya. Sebenarnya juga, kita membahas tentang masing-masing blog kita pribadi, aku agak lumayan lama jarang update tulisan di sini karena I think, privacy so I can’t expose. 

Jadi, aku bingung, tulisan ini adalah bentuk ‘Kopi untuk Konten atau Konten untuk Kopi”

Sekian.

Gambar

PREPARING FOR NEXT SEMESTER

img_1790 Hari ini tepat tanggal 28 Februari 2017. From Yogya to Solo.

Tak terasa kini saya telah memasuki semester 6. Semester puncak dimana apabila kita lengah sedikit maka kita akan jatuh lebih sakit. Saya bukan mau mengeluh disini. Saya ingin berbagi cerita bagaimana perasaan senang saya.

Perasaan senang? Come on ges, this is the beginning, so kamu senang dari mana?

Semester kali ini ada banyak sekali mata kuliah berat yang nangkring di episode 6 perkuliahanku ini. Sebut saja Micro Teaching, Proyek Akhir, Catering, Tematik Boga, Metode Penelitian, Seminar Proposal Skripsi, dan Strategi Penilaian serta KKN. Tiba-tiba saya merasa menjadi Atlas yang kuat mengangkat bumi.

So, I’ll tell you all about my trip? Not trip. This is mengirimkan surat untuk observasi di salah satu SMK yang ada di Kota Surakarta, Kota yang pernah dipimpin oleh Presiden kita bapak Joko Widodo.

Pukul 6:15 pagi, kami (saya, Mama dan Rara) bertolak dari kos-kosan menuju Stasiun Lempuyangan kemudian menuju Stasiun Purwosari (Solo) dengan menggunakan Prameks (sejenis Commuter Line jika di Jakarta). Cukup bayar RP 8.000 saja sudah bisa menikmati perjalanan kecil dari dua kota yang dianggap kejawen/jawanya jawa. Hari ini kami tidak mendapatkan tempat duduk alias ‘ngadeg’ yaitu berdiri, hmmmm… pagi-pagi sudah upacara. Lumayan melelahkan kami berdiri sambil bercanda tawa kecil sampai dilihatin mbak-mbak sama ibu-ibu mungkin karena ngelihat kita pengen duduk banget tapi tidak mendapat tempat duduk sama sekali.

It is perjalanan ku kedua kalinya ke Solo setelah bertahun-tahun tidak pernah ke Solo. Mungkin saat itu usiaku sekitar 4 tahun sehingga tidak banyak ingatanku mengenai kota Solo ini. Kami memutuskan untuk menggunakan Taksi sebagai alat transportasi kami selanjutnya. Kami membayar RP 25.000 itu saja tarif normal jika jarak tidak mencapai target. Baiklah. I choose you Pak.

img_1763

Kami pun menuju sekolah yang akan menjadi tempat observasi sekaligus menjadi tempat magang kependidikan kami yaitu PPL (jadi guru gituuuu). Saya merasa semakin tua tetapi saya tidak pernah merasa lebih dewasa dari sebelumnya. Kenapa saya merasa masih usia SMA terus menerus jika dihadapkan denganproblematika bahwa saya sudah hampir di penghujung semester perkuliahan, Saya akan menjadi apa? Pertanyaan yang terus menerus membuatku pusing jika ada di seminar/pembekalan perkuliahan. Pertanyaan itu menampar saya berulang ulang kali.

Back to topic, setelah saya bertemu dengan pihak sekolah dan melakukan komunikasi kerjasama juga sharing kemudian kami pun selesai. What next?

You know lah, apalagi kalau bukan QULINERAN. Berburu makanan khas Solo yang belum pernah aku rasakan secara langsung, Selat Solo dan Nasi Timlo. Dari SMK kami pun pergi dengan taksi lagi menuju Pasar Nongko. Sedikit cerita, Solo ini juga terkena imbas dari penjajahan Belanda saat itu terutama dalam bidang makanannya, seperti Selat Solo atau lebih dikenal juga dengan nama Steak Jawa, ya memang seperti steak hanya rasanya jawa.

img_1776

Ini ada Nasi Timlo, dia itu mirip Soto sih menurutku. Ya karena ini pertama kalinya saya makan Nasi Timlo jadi pendapat saya ini sama dengan Soto, mungkin jika sudah sering menikmati akan dapat membedakan mana Soto mana Nasi Timlo.

Dan selanjutnya ada Selat Solo. Ya, dilihat saja sudah seperti Steak begitu ya bedanya kalau steak itu menggunakan Demiglace Sauce, yaitu saus yang terbuat dari roux yang dicampur dengan kaldu sapi yang rasanya amazing. Kalau ini sausnya apa yah saya kurang terlalu suka karena agak asam gitu seperti diberi saus tomat. But, overall its ok.

img_1770

Ini minumannya asli enak banget terutama yang Es Dawet. Dia pakai gula jawa asli jadi manisnya gak bikin batuk di tenggorokan dan kesegarannya bisa bikin saya dan teman saya membungkusnya untuk di kereta nanti. Untuk Es Kopyornya tidak rekomended sih menurut saya.

Nih kubagikan menunya, cukup murah menurut saya.

Oh ya BTW, Mulai 1 Maret 2017 di tempat ini harganya semuanya naik RP 500,- jadi beruntunglah kami datang di tanggal 28 Februari 2017 wkwkw sehari sebelum kenaikan. Ini adalah harga sebelum naik ya, besok tanggal 1 Maret 2017 harga naik.

Nah disini, akhir dari perjalanan pertama kami datang ke Solo. Nanti kami datang lagi untuk observasi dan insya Allah dapat PPL dengan baik di sana. Untuk menghemat pengeluaran, kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju Stasiun Solo Balapan. Sengaja kami memilih stasiun yang berbeda, saya pun ingin tahu seperti apa Stasiun yang jadi salah satu judul lagu Didi Kempot ini. Stasiun ini sedang mengalami perbaikan dan sepertinya akan menjadi lebih besar dan bagus dilihat dari bangunannya yang yaa bersih dan cukup nyaman.

Pukul 12:10 WIB, kami mulai meninggalkan Solo dan kembali menuju Jogja. Rasanya badan mulai lelah. Ngantuk tapi tidak bisa tidur karena seandainya tidur itu menurut saya terlalu cepat, karena perjalanan kami hanya satu jam. Biasa saya naik 3 jam dari Jogja ke Purwokerto bisa tidur lumayan lama, ini sulit sekali saking sejam saja.

Tak terasa sebentar lagi sampai di Lempuyangan. Kami bergegas pergi ke kampus untuk mengikuti matakuliah pada pukul setengah tiga. Dan….

Sampailah kami di kelas 210 ternyata jadwal kuliah ditiadakan. Deeeeeeep!!!!

Tau gitu, tadi mainnya diperpanjang. Huhuw

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Baiklah, terimakasih sudah membaca tulisan saya yang sangat antah berantah. Daripada saya cerita di twitter nanti membuat spam jadi saya cerita disini. Semangat KKN PPL teman-teman semuanya. Semoga lancar diberi kekuatan untuk menghadapi semuanya.

 

IN FRAME: WIWI, RARA DAN MAMA.

Pengulangan suku kata semua ya hehe

 

Disaat Aku Lanjut Usia

Hari ini tepat genap usia ku 20 tahun. Usia yang tidak pernah aku bayangkan bisa secepat ini, aku selalu merasa bahwa aku ini masih berusia 12 tahun, entahlah… aku selalu merasa masih kecil, masih tidak dewasa, masih mengaggap bahwa aku seharusnya anak terakhir (bukan berarti aku tidak menginginkan adikku, tetapi inilah yang aku rasakan saat aku masih usia 3 tahun dan belum mengerti apa-apa). Tidak ada yang sakral atau pun penting di hari Sabtu, 1 Oktober 2016 ini. Karena ya memang tradisi keluarga tidak pernah mengingat maupun merayakan ulang tahun, jadi ingat saja dulu pas TK sempat pengin kalau ulang tahun dirayain sesekali saja seumur hidup, dan aku tidak pernah merasakannya sampai sekarang (dalam keluarga).

Mulai memasuki jenjang sekolah MI, MTs dan SMA dimulailah semacam surprise, aku menghargai kalian semua yang berusaha menghiburku di hari kelahiranku meski hanya sebuah ucapan.

Sejak Jum’at kemarin, aku sudah merasa lelah dan badanku mulai melakukan aksi protes padaku. Yah, kuliah ku yang sebenarnya dimulai. Mahasiswa ditahun ke tiga digadang-gadang adalah mahasiswa dengan jam tersibuk dan tugas seabrek. Laporan praktik industri belum kelar, buat restoran belum matang, jual waralaba sedikit kurang siap dan masih banyak tugas yang belum banyak persiapannya.

Alangkah indahnya ciptaan Nya

Penyakit batuk dan flu adalah penyakit yang paling bisa bikin mood ku hancur seketika.. Kondisi ini sangat aku benci. Aku tidak bisa melakukan hal yang membutuhkan konsentrasi dan waktu lama. Tenggorokan yang gatal, hidung yang ingusan, badan yang demam dan mata yang pedih (mungkin karena minus nya udah gede). Kehidupanku ku jalani dengan obat dan tidur. Waktu ku terbuang banyak untuk sekedar tidur akibat dari obat yang ku minum. Kalau tidak tidur terasa lemah, kalau tidur ya konsekuensi tugasku entahlah…

Tapi bagiku semua itu tidak berarti, mengeluh adalah hal yang paling dibenci oleh Tuhanku. Aku bersyukur masih diberi nafas walau dengan hidung sebelah. Aku bersyukur dengan sahabat, keluarga dan orang yang terlibat dalam kehidupanku. Disaat aku lanjut usia, mereka masih ada bersamaku.

Malam ini, sahabatku datangi aku dengan membawa Bakmi godhog, Balon helium dan Tisu 900 gram. Terlihat aneh, tapi itu sangat berharga untukku. Aku dengan konsisiku yang sedang flu berat sangat membutuhkan tisu agar tidak bolak balik ke kamar kecil dan bakmi godhog nya lumayan buat ganjel perut (walaupun udah makan sih) setidaknya menghangatkan.

Aku pernah mendengar saat itu Bunda mengatakan, “kalau kalian seperti ini, biasanya persahabatan kalian akan selamanya…” dan itu aku amin kan. Aku selalu berharap di setiap jenjang pendidikan ku ku punya sahabat. Dimana saat aku mulai menuju kehidupan yang sesungguhnya, mereka akan aku perkenalkan satu dengan lainnya dengan sahabat- sahabatku yang lain.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

When The Children Cry

Hari ini adalah hari pertamaku bekerja dengan niat bekerja.

Malam kemarin, aku bekerja tetapi dengan niat sebagai ‘Pemain Cadangan’ tapi kemudian aku diberikan pekerjaan oleh Ibu Ayu.

Awalnya, ku rasa ini butuh adaptasi yang cukup lama. Tetapi dengan bantuan temanku dan dorongan semangatnya, aku bisa membantu malam itu dengan sigap dan siap. Aku bekerja di sebuah tempat makan dengan nama ‘Kini Kuno’ di sebuah Mall terbesar di Yogyakarta. Dengan komposisi karyawan sebanyak maksimal 3 ini, aku merasa kembali berada di MUB. Yaitu sebuah mata kuliah yang mengharuskan mahasiswanya untuk berdagang dengan lahan dan pinjaman modal berasal dari kampus.

Selama MUB, aku banyak belajar berbagai bidang mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan segala pokok masalahnya serta bagaimana melaporkan hasil usaha dengan benar.

Sebenarnya,

Hal yang paling aku takutkan adalah bekerja. Kenapa?

Karena aku harus berada dibawah tekanan orang lain dan segala tindakanku adalah berpengaruh terhadap tempat kerjaku. Mendengar bagaimana beberapa temanku yang bekerja itu menjadi sedikit terkekang membuatku menjadi anak yang rumahan cupu dan manja. Disisi lain aku ingin menjadi manusia yang tidak terus-menerus menggunakan kemudahan-kemudahan yang orang tuaku berikan.

Aku agaknya akan meneruskan pekerjaan ini untuk mencari pengalaman yang lebih banyak dan melatih bagaimana aku seharusnya di dunia usaha yang sebenarnya yaitu bertemu dengan konsumen dan bersahabat dengan cacian konsumen.

Awal Juli nanti pun aku juga harus menjalankan masa ‘magang’ di sebuah restoran selama 2 bulan kedepan. Agaknya ini akan jadi momok yang besar karena ini adalah restoran yang sudah memiliki pelanggan tetap. Dengan ibu Aan, semoga aku dapat melewati masa magang dengan mudah.

Belum lagi, beberapa hari yang lalu kakak tingkat semester 6 melakukan proyek akhir. Menjelang malam acara yang besar itu, aku menangis. Bagaimana ini. Tahun depan adalah aku yang akan mengisi salah satu meja di ruangan Auditorium itu. Aku berharap aku dapat mendapatkan gelar yang akan membahagiakan bapa ibuku. Acara proyek akhir ini, akan dihadiri oleh orang tua dan that’s like graduation.

I feel, I must have be adult woman…

Now.

And now I feel my skin very gatel because I just took a bath in the morning HEHE

and MY BACK WAS HIT BY TOMCAT.

 

Antara Kopi, Kantuk & Kertas

07/04

Tepat malam Jum’at. Aku terlena oleh perasaan nyaman berada di atas tempat peristirahatan. Baru ku sadari, esok pagi nanti ada mata kuliah praktek patiseri. Laporan belum ku selesaikan.

Malam ini, Ice Il Mondo Latte menjadi kenalan baruku di Jogja. Rasanya Ice Cream yang soft dengan pasangan Coffee Latte membuat ku terlena untuk kedua kalinya.

Begitu kuingat kewajibanku, tiba-tiba kantuk datang. Pikiranku kacau. Lembaran kertas yang dihembus kipas angin terbuka-buka.

Sial.
Konsekuensi belum menyelesaikan laporan hingga jam ini adalah tempat print yang buka 24 jam itu lumayan jaraknya.

Sedikit sedikit ku seruput Ice Il Mondo Latte ini demi terselesaikannya laporan esok pagi nanti.

Baru terpikirkan, budget belajarku agak mahal malam ini.
– Bensin
– Parkir
– Ice Il Mondo Latte
– Classico

Waday.
Senin puasa rajab kudu dah ini…

Pikiranku Semseter 4

Kicauan merdu di pagi hari membuat telingaku terbuka dan mendengar bahwa ini sudah pukul 06.17 pagi..

Aku rasa, aku masih sama saja. Tidak. Aku berbeda. Aku merasa semakin hari semakin banyak berpikir. Entahlah aku memikirkan apa. Sepertinya hari-hari di dunia perkuliahanku ini mulai aku rasakan dan pikirkan beratnya.

Aku suka makan. Suka memasak. Tetapi mendadak di semester 4 ini, aku merasa aku sangat diuji. Dari begitu pusingnya aku memikirkan tempat praktek industri. Ditambah lagi sepeda lipatku yang rasanya ingin segera aku lipat dan ku jual saja kemudian ganti yang baru. Ditambah lagi dengan kakak tingkat cowok dari fakultas seni yang minta diajarkan bikin kue olehku.

Aku tidak mengerti mengapa hal ini terasa berat bagiku. Aku pun segera bertanya pada temanku yang memang suka dengan hal-hal berbau patiseri. Aku merasa, aku ini salah jurusan kah? Aku lebih menyukai teori sepertinya..

Entahlah, dulu aku sangat menyukai patiseri tetapi akibat dari pengalaman praktek dan ujian kemarin aku gagal dalam membuat kue (bantat), Hal ini sangat mempengaruhiku. Aku harus bagaimana? Aku ingin jiwaku dipenuhi rasa semangat dan rasa ingin tahu yang tinggi bukan hanya kemalasan tiada berarti seperti ini.

Jika memang ini bukan jalanku tolong aku beri aku pencerahan agar aku tahu apa yang harus aku lakukan Tuhan…

 

KUNCI MOVE ON?

KUNCI MOVE ON

ITU

“TIDAK KEPO DENGAN HAL YANG DILAKUKAN SAAT INI OLEH MANTAN”

BAIK MELALUI :

1. Sahabat dekatnya

2. Keluarganya

3. Tanya langsung via apa pun

Karena saat kamu menyadarinya, kamu telah kehilangan waktu yang banyak untuk memikirkan orang yang bahkan tidak lagi memikirkanmu.

Sudahi sesegera mungkin.

Makan yang banyak.

Tidur cukup.

Cari hobimu yang lama hilang.

seperti

“BERMAIN”