SULIT

Hi.
Lama tak lagi bersama,  namun rasa hingga kini masih ada. Getar cinta itu masih menggema kala aku tahu kita berada ditempat yang sama. Sejauh apapun jarak aku dengan mu, akan ada orang baru yang rupanya seperti dirimu. Aku bosan bertanya, mengapa begini? Salah seorang teman kuliah ku ada yang mirip dirimu, hampir saja aku jatuh cinta. Namun ku tahu itu bukan kamu. Hingga kini ada lagi seseorang yang lebih mirip dengan mu. Senyumnya. Wajahnya. Sorot matanya. Dan sikapnya yang sedikit caper padaku membuat aku sedikit ingin memilikinya, tapi aku tahu itu bukan kamu. Kamu tetaplah kamu. Sebanyak apa kembaranmu, dirimu tetap yang aku mau. Aku selalu rindu dengan hadirmu. Hadir saja pun tak apa. Meski hati tak mungkin lagi tuk disatukan.

Iklan
Status

Khayal

IMG_20170830_172706Hari itu, aku berdua denganmu. Denganmu, Reza. Aku tak tahu ini dimulai dari mana. Yang ku ingat, suasana kala itu seperti gumpalan es terpapar mentari, ya cair sekali. Aku dan dirimu tertawa tersenyum berdua, namun dirimu nampak sedikit canggung.
Ku ajak dirimu menemui temanku, tak sadar diriku memegangi erat jemari tangan kananmu. Bibirmu melengkung indah ke bawah, merasakannya. Sampai suatu waktu, aku merasakan adanya sentuhan lain yang membangunkanku dan membawaku ke situasi yang sebenarnya. Begitulah mimpi. Indah rasanya.

Sejatinya, aku teramat sangat merindukanmu.

GUZU LAN GAZENG DI DUSUN GUDE Eps. 2

Selasa, 8 Agustus 2017

Pagiku terasa hening. Sejenak aku berpikir…

“Kok hening ya? Ada apa ya?” mesin dalam tubuhku masih berjalan pelan untuk membangun seluruh jiwa dan tubuhku ini.

“Astaghfirulloh!!! Bodoh! Wiw.. aduh bego banget sih! Ya Allah, aku bego banget!!!” Ku caci maki diriku ini. Aku baru tersadar bahwa hari itu adalah hari keberangkatan kita ke lokasi KKN karena pada pukul 9 siang akan diadakan penerjunan KKN tahap II dan penarikan KKN tahap I.

“Bisa bisane sih Wiw, tangine kebo nemen anjir sialan! Wis pan jam 7 nembe tangi. Goblok nemen ahhh…” Aku membatin terus menerus sambil buru-buru menggosok gigi, cuci muka sekedarnya dan segera berganti pakaian melewatkan moment mandi pagi. Aku segera mengecek ponselku, dan benar saja, teman-teman KKN ku sudah menungguku dari jam 6 pagi. Hehehe (Maafin)

Entahlah, kejadian kesiangan ini seringkali terjadi padaku akhir-akhir ini, lebih tepatnya semenjak kakak aku tidak lagi satu tempat denganku. Tidak ada yang mengomeliku. Hening. Hampa. Kosong. Sepi. Sunyi.

Aku selalu mimpi buruk dengan hal seperti ini. Saat aku merasakan hening di pagi hari maka itulah tanda aku mengalami kesialan.

Awkay, lupakan saja!

Saat itu aku membalas WA pada teman-teman KKN ku kalau mereka sudah siap berangkat dan merasa menungguiku itu lama maka mereka ku minta mendahului saja. Aku ditinggal saja. Rasanya seluruh tubuhku bergetar tidak menentu karena selain merasa bersalah memberikan kesan buruk diawal pun menghambat waktu bagi temen se-KKN ku juga karena kaget baru bangun tidur langsung gejolak cepat.

Hari itu kita melaju dengan motor sendiri-sendiri. Semua, kecuali Dwi. Dwi sudah ada di lokasi sejak semalam. Ada satu kejadian yang paling menyebalkan dari sosok Dwi, malam itu sebelum dia berangkat ke lokasi. Aku benar-benar dibuatnya kesal.

“Way, kamu di kost?”

“Way, ada masalah penting tentang KKN. Nanti aku ceritain.” Katanya di WA.

Dari kalimatnya saja sudah membuat penasaran dan cukup membuat hati berakrobat. Aku pun terbawa dalam situasi yang seakan-akan menegangkan.

“Masalah apa? Gak usah bikin heboh sih!” jawabku.

“Udah, pokonya nanti aku ceritain disana aja.” Pintanya begitu.

Yaudah, karena daripada aku sebel sendiri ya terpaksa nunggu dia datang ke kost ku. Sebenarnya aku pun penasaran sampai-sampai aku chat Tia untuk menanyakan masalah apa yang sedang kita hadapi ini. Tia pun kurang mengerti. Aku menyerah. Hingga akhirnya…

“tititttt….” begitu suara klakson motornya.

“Kenapa Dwi? Ada masalah apa sih?” Tanyaku to the point.

“Jadi gini, semua anak KKN B (Tahap II) belum ada yang nyerahin surat ke Kecamatan. Cuma sampai Dusun dan Desa aja. Jadi kita dianggap bermasalah, tidak ada izin.” Jawabnya serius.

“Terus?”

“Jadi, malam ini aku sama Faisal, Enggar, tuh mau naik duluan ke Tepus, biar paginya bisa ngurus surat itu ke kecamatan.” Lanjutnya sambil memperlihatkan barang-barang yang dia bawa ya ada tas carrier dan lainya.

“Lah, terus aku suruh apa Dwiiiii…” aku mulai geram.

“Jadi, kan almamaternya aku udah dibawa pick up kemarin tuh di dalem tas ku. Nah, aku kesini mau pinjem almamaternya kamu Way? Almamater kamu masih di kost kan? Soalnya besok pagi banget aku ngurusnya ke Kecamatan takutnya nanti gak sempet ambil ke posko, jadi buat jaga-jaga pinjem punyamu. Gimana? boleh kan?”

“Anjirrr.. Ya Allah, bilang aja gitu mau pinjem almamater ngapain harus segala bikin orang sok sok jadi penasaran. Gak lucu tau. Kebiasaan banget sih ngeburu-buruin orang kaya gitu. Halah…” aku pun kesal dan pergi mengambil almamaterku di dalam kamar.

“Yaaa kan biar kamu tau ceritanya dulu gitu loh Way, biar enak.” Dia terus membela dirinya.

Sumpah ya, sejak kejadian ini aku menangkap sosok Dwi ini tipikal orang yang suka bikin heboh kaya berita-berita sok viral gak penting di media sosial.

Hmm, oke lah. Sampai disini saja cerita tentang Dwi nya.

Lanjut,

Pagi itu aku datang ke kost-an Tia yang tempatnya itu dijadikan basecamp buat ngumpul KKN kita. Aku datang, semua temen KKN ku sudah siap berada di motor tinggal nge-gas aja. Aku semakin bersalah.

“Lah iki sing ditunggu…” ucap salah seorang teman. Entahlah, lupa siapa. Bintang apa ya?

Kita pun langsung pergi ke lokasi, tidak lupa membeli bensin di Pom andalan, ya, di Pom bensin chapter Ambarrukmo. Kita lewat Janti, Berbah dan Piyungan selanjutnya masuk wilayah Gunung Kidul dan sampailah di Tepus. Sudah mulai sedikit hafal jalan menuju Posko KKN ku. Aku lihat di kanan jalan sudah terlihat lapangan bola dan di depan ada tanjakan. Itu tandanya sudah dekat dengan Dusun tempat KKN kita ditempatkan. Yap, belok kiri masuk Dusun Blekonang dan yak! Memasuki wilayah Gude 1. Awal kali masuk menggunakan motor sendiri itu rasanya sangat menantang. Jalan yang dilintasi itu berbatu dan terjal. Belum bisa adaptasi lingkungan.

“Wow.. wow… astaghfirulloh…” begitulah ucapanku saat pertama kali berkenalan dengan jalanan ini.

Hingga tiba di persimpangan, kita sedikit bingung.

“Ini Gude tuh ke mana ya?”

Kita sudah melihat penunjuk arah tapi masih belum fokus. Hingga akhirnya memutuskan untuk belok kiri dan memang benar itu jalannya. Alhamdulillah.

Sampailah kita di posko KKN yaitu rumah Bapak Sumpono (ayah dari bapak Kepala Dusun Gude 1). Teman-teman dari kelompok KKN A97 sudah menunggu kita untuk berangkat bersama ke Balai Desa. Rasanya lelah. Tenaga yang sudah hampir habis ini harus segera benar-benar dihabiskan karena setelah kita datang ke posko, selang berapa menit sudah harus berangkat ke Balai Desa dan yah karena menjadi wanita terbesar di kelompok KKN ku ini ya harus megang stang motor lagi. Nyetir lagi.

Kita pun berangkat melewati jalanan yang terjal dengan lebih banyak lagi. Naik turun. Kelok. Jedag jedug. Buta arah. Bermodalkan senyum dan bertanya. Akhirnya kita sampai di Balai Desa. Acara penarikan dan penerjunan KKN pun berlangsung cukup lama. Setelah itu, kita semua kembali ke posko untuk beristirahat dan menata barang bawaan yang banyak itu.

IMG_20170809_100107

Suasana Penerjunan dan Penarikan KKN

Selanjutnya adalah pembagian jatah kamar.

“Ri, aku kamarnya yang mana ya?” tanyaku pada Riani karena aku benar-benar tidak tahu kamar mana yang akan aku diami.

“yang ini…” dia menunjukkan kamar paling kanan.

Kemudian aku menata kamar sedemikian rupa. Koper dan semua barangku sudah aku masukkan.

“Way, kamu kamarnya yang di sini… disitu Helin sama Nita.” Tegas Tia menyuruhku berganti kamar di tengah.

IMG_20170809_144732

Ini kamar tengah yang finally jadi tempat tidurku

Okelah. Aku pindah. Aku pun membawa semua barangku dipindah ke kamar tengah.

“Wow, first class nih. Ada dua gantungan, ada meja dan ya walaupun agak sempit tapi kamar ini lebih besar dari yang lainnya.

Setelah semua menata barang. Kita pun istirahat sebentar, makan siang dan shalat. Selanjutnya, kelompok KKN A97 berpamitan untuk kembali dan diganti oleh kelompok KKN B97 yaitu kita. Sore hari, kita mencetak dan membagikan undangan kepada Kepala Dusun, RW, RT, dan beberapa warga untuk mensosialisasikan program kerja KKN B97 ini.

Sore itu, pertama kali kita berkenalan dengan anak-anak. Pertama kenal anak-anak disini agak sedikit menyebalkan. Seakan mereka tidak mengerti perasaan. Riani dikata bahwa parfum yang dipakainya tidak enak oleh salah satu anak kecil disana. Dan itu cukup membuat temanku sedikit kesal karena ini kesan pertama yang sangat buruk. Lalu Helin yang juga dikata bahwa lipstiknya terlalu tebal. Ya memang sih. Tapi please, itu kesan pertama yang menjengkelkan. Aku pun tak luput dari ejekan mereka yang mengatakan bahwa aku gendut. Ya memang gendut. Aku sih gak masalah dengan kondisi ini asalkan aku tidak direndahkan seperti semua temanku yang merasa bahwa dirinya direndahkan.

Itu adalah awal yang menjengkelkan saat berkenalan dengan anak-anak di sini.

Kita pun mulai membagikan undangan sosialisasi ke warga dan kita berkeliling jalan kaki. Sungguh ini menyiksa. Medan jalannya yang naik turun dan terjal dengan pemandangan bebatuan, kandang ternak dan bergelut dengan debu dan cuaca panas sangat membuat nafasku berhembus tak beraturan.

Malam hari pun tiba, sosialisasi berjalan lancar. Saat itu, sedikit sekali warga yang hadir. Hanya dihadiri oleh 15 orang warga saja. Aku pesimis.

“Yah, sudah disiapkan teh dan snack, masa nggak ada yang dateng ya? Apa mereka nggak menyambut kehadiran kita?” aku bergumam pada hatiku.

Kepala Dusun pun meminta maaf atas kejadian ini karena ya sedikit sekali yang datang. Malam hari di sini, anginnya sangatlah kencang karena lokasinya yang dekat dengan pantai. Aku merasa membeku. Anginnya tak berhenti menyapa. Berhembus dan berhembus. Warga di dusun ini menyukai ‘jagongan bengi’ atau nongkrong ngobrol malam hari sepertinya, karena semakin malam justru mereka semakin rame dan mereka tahan dengan angin malam yang sangat dingin itu. Mungkin waktu mereka untuk berkumpul adalah saat malam hari, karena pagi hingga siang mereka meladang dan sore untuk beristirahat, maka malam hari adalah waktunya untuk berkumpul.

Pukul 11 malam, acara sosialisasi ini pun selesai. Alhamdulillah. Aku sudah tidak sabar untuk tidur. Badanku terasa kaku. Setelah membersihkan tempat sosialisasi. Kita pun kembali ke posko.

IMG_20170810_204546

Suasana sosialisasi pertama

Aku masuk ke kamar. Aku tidur sendirian di kamar. Dua kamar lainnya berisikan Tia-Riani dan Nita-Helin. Oke fix, dhewekan. Yang cowok tidur di ruang tengah. Ada dua kasur di ruang tengah. Yang satu dipan diisi oleh Bintang dengan selimut khasnya ‘Gorden Sunmor’ ku namainya. Dan di kasur busa besar yang dianggap sebagai pusat gravitasi itu diisi oleh Dwi dan Alfian.

Malam itu aku tidak mudah menutup mata. Aku selalu membayangkan hal-hal aneh di dalam kamar. Karena posko ku memiliki satu paket gamelan di ruang tamu depan itu membuat poskoku terlihat angker selalu berpikir kalau suatu malam itu berbunyi bagaimana. Parno yes!

“Turu Wiw, orasah dipikiri. Turu. Turu.” Batinku menenangkan diri.

Keesokan harinya,

“Way, way… tangi way?” Nita membangunkan aku dari tidur

“Heh? Hhh…” aku mengangah.

Bersambung…

GUZU LAN GAZENG DI DUSUN GUDE Eps. 1

Cerita ini dimulai ketika kami memasuki akhir semester 6 di perkuliahan ini. Salah satu mata kuliah wajib di universitas negeri adalah KKN atau Kuliah Kerja Nyata. Aku mengambil KKN Khusus yaitu KKN yang dilaksanakan selama sebulan penuh di desa waktu liburan semesteran. KKN ku dilaksanakan dibulan Agustus yaitu KKN Khusus tahap 2. Pihak kampus pun membagi kelompok KKN, salah satunya kelompok KKN ku.

Pada pengumuman pertama, aku sempat tertinggal informasi. Saat itu, aku sedang ada ujian praktek dan aku bangun kesiangan juga karena saat itu bulan puasa (aku tertidur setelah sahur). Aku kaget mendengar semua teman kelasku membahas lokasi KKN. Aku pun tergesa-gesa membuka HP yang sedari malam tak ku buka. Ku buka dan kubaca pengumuman, aku ditempatkan di Desa Sumberwungu, Tepus, Gunung Kidul, DIY. Hal pertama yang terbesit adalah “yah gak ada air dong?!” dan “yah, ga bisa sering balik kosan dong!”

Setelah itu, aku buka Whatsapp dan ternyata sudah banyak chat di grup KKN ku yang aku baru tahu. Aku baca siapa saja teman satu kelompokku yang terdiri dari 10 anak tiap kelompok. Mereka adalah Dwi, Beni, Alfian, Bintang, Riani, Rahma, Tia, Anita, Herlina dan aku. Awalnya aku agak ragu di KKN ini mengingat lokasi yang diluar ekspektasi. Tapi sering ku dengar banyak yang berkata kalau KKN itu enak ditempat yang jauh sekalian. FYI aja, desa tempat KKN ku ini letaknya di perbatasan Australia alias mepet pantai banget hehe.

Pertemuan KKN perdana pun digelar. Karena saat itu bulan puasa, jadi pertemuan itu dilaksanakan saat waktu berbuka sekalian buka bersama. Saat pertama kali bertemu hanya dihadiri oleh 7 orang anak saja tanpa Beni, Alfian dan Rahma.

“Awal yang buruk. Masa nanti cowoknya cuman 2 orang doang pas KKN?! Haduuu…” Pikirku.

Selesailah kami memulai masa perkenalan. Kami pun sering chatting digrup WA agar tidak canggung saat nanti memulai KKN bersama. Hingga tibalah waktunya pembekalan KKN yang semua calon temen KKN ku datang kecuali satu yaitu Beni. Rahma dan Alfian datang ke pembekalan KKN. Tadinya ku kira Alfian adalah Beni karena Beni selalu muncul di grup chat jadi meniadakan rasa negatif thinking bahwa dia tidak ikut KKN. Tapi ternyata salah. Pada saat ujian pun, Beni tidak menunjukkan siapa dirinya. Sampai suatu hari, keluarlah pengumuman siapa saja yang lolos KKN dan Beni tidak lolos karena dirinya belum satu kali pun muncul dalam rangkaian kegiatan wajib pra-KKN.

“Hih ini kelompok ku gimana sih?! Masa cowoknya cuma 3 nanti?” Gerutu ku saat tau kabar itu. Pikirku adalah KKN itu berat, butuh banget tenaga laki masa iya cuma 3 cowoknya. Tapi apa daya. Yasudahlah.

Kita pun melakukan observasi pertama ke lokasi KKN. Saat itu, kelompokku memilih menggunakan mobil disaat yang lain menggunakan motor, ini karena cuaca panas dan kondisi yang sedang puasa, lagi temen cowoknya ada yang tidak bisa mengendarai motor jadi si Dwi kasihan kalo nyusahin kita para cewek. Sampai di lokasi Balai Desa, aku masih baik-baik saja melihat medan jalan yang normal. Setelah itu dijelaskan di peta letak dusun kita ditempatkan jadi ciut lagi.

“Dih, jauh banget masa?” Lagi lagi aku menggerutu di dalam hati.

Kami pun diantarkan ke dusun oleh perangkat desa. Dusun pertama yang kami lewati adalah Bantalwatu, ini adalah dusun tempat temanku KKN. Medan jalannya bagus beraspal. Lalu, jalan semakin tidak terkondisikan menurutku yang baru kali pertama lewat. Sampai di Wunut. Lanjut lagi, medan jalan menuju Gude 2 makin tidak karuan. Mobil kita tidak bisa memasuki jalan posko Gude 2 (98). Mobil kita terpaksa berhenti di pertigaan tanjakan yang cukup tinggi. Sempat terpikir, ini jangan-jangan tidak bisa dilalui mobil. Terakhir adalah Gude 1, jalan menuju sini juga lumayan menurun curam dekat posko.

“Anjir, ini cewek-cewek lain yg pada naik motor kuat-kuat banget ya fisiknya. Aku kalah.” kata hati kecilku.

Dusun Gude ini terdiri dari Gude 1 dan 2. Jaraknya tidak begitu jauh. Kita diantarkan ke bakal calon posko dan bertemu masing-masing kepala dukuhnya. Setelah selesai, kita pun pulang. Ditengah jalan, kita berhenti untuk shalat dan berbuka puasa. Aku sudah kesal menahan rasa lapar dan dahaga selama perjalanan saat itu karena sudah memasuki waktu berbuka tapi tidak menepi-nepi untuk membatalkan puasa, minimal minum.

Hari demi hari berlalu, KKN tahap I sudah memasuki masanya. Kita selaku KKN tahap II masih bingung harus ngapain. Aku pun bertanya-tanya, kira-kira KKN itu ngapain sih sampai butuh proposal banyak menilik KKN tempat temanku kemarin sering buat proposal. Hingga observasi ke-2 pun tiba. Kali ini, Rahma tidak muncul lagi dalam rangkaian kegiatan pra-KKN.

“Ini anak jadi ikut nggak sih KKN? Niat ngga?!” Pikirku kesal.

Sampai suatu hari, semua teman KKN yang cewek terutama kesel beneran. Ditanyalah Rahma mengenai proker-nya apa yang mau dilaksanakan di KKN nanti, jawabnya pun tidak jelas. Sampai semuanya menyerah. Dan H- berapa itu, Rahma memberi kabar bahwa dirinya sedang dalam persiapan pernikahan sehingga dia memilih tidak jadi ikut KKN tahun ini bersama kita takutnya nanti malah menghambat kegiatan kelompok KKN. Aku speechless. Antara senang dan sedih.

Senang karena teman udah mau nikah.

Sedih karena baju udah pesen 9, iuran udah ditetapin buat 9 orang dan beban dana lainnya.

“Dih masa aku sekelompok KKN Cuma 8 orang?! Hilang lagi satu tenaga manusia. Ini KKN nya gimana ya? Pasti berat banget nih gak Cuma di waktu dan tenaga tapi duitnya pasti lebih banyak keluarnya. Waduh ini gimana yaaaaa…” pikiranku makin tidak karuan malam itu saat Rahma WA aku.

Akhirnya kita pun menjalani sisa waktu persiapan ini dengan 8 orang saja. Hingga tiba masa dimana kita dihadapkan dengan KKN yang sebenarnya.

Baca lebih lanjut

UPACARA KEMATIAN

Disebuah desa di Kec. Tepus, Gunung Kidul inilah tempatku dan 7 kawan sebayaku melaksanakan program KKN khas mahasiswa tingkat akhir. Hari ini, ada sebuah kabar duka datang dari salah satu warga desa jika tidak salah dengar beliau bernama Ny. Sangjem dengan usia 90 tahun. Waow…

Sedikit cerita, di desa ini banyak sekali orang tua yang sudah sepuh dengan badan yang masih fit dan bugar namun usianya sudah diatas 75 tahun. Aku sangat terpukau, kesehatan mereka sangatlah terjaga berbeda dengan warga kota yang memiliki usia harapan hidup rendah karena banyaknya tekanan dan gaya hidup yang tidak sehat.

Ada yang berbeda di upacara pemakaman yang hari ini aku dan beberapa temanku ngelayat. Beberapa kali aku menyela ibu yang akrab dipanggil “Bunda” dengan pertanyaan-pertanyaan tradisi apa yang biasanya dilakukan oleh keluarga yang ditinggalkan.

Pertama, apabila seseorang meninggal dunia maka akan diumumkan menggunakan kentongan di pos jaga, selanjutnya harus menyembelih satu ekor kambing. Kambing jantan untuk jenazah lelaki dan kambing betina untuk jenazah wanita. Kemudian, pada hari tersebut juga mereka memasak dan mengurus jenazah. Kambing yang telah dimasak kemudian dibagi-bagikan kepada warga sekitarnya beserta nasi dan pelengkapnya. Sembari jenazahnya disiapkan untuk dimakamkan maka salah satu anggota keluarga atau tetangga membantu membagikan makanan yang sudah dimasak tersebut. Saat makanan sudah habis dibagi, jenazah siap untuk dimakamkan.

Kemudian, pak RT atau siapa pun yang bisa membuka dan menutup perjalanan jenazah sebelum dilepas ke jalan menuju pemakaman. Ada semacam obor yang dinyalakan di dekat keranda dan buah kelapa yang dibawa oleh seseorang.

“Oma, itu buat apa siang-siang bawa obor juga? Apa gimana?”

“Bukan, itu bukan obor. Itu kemenyan..” jawabnya.

“Terus, kelapanya buat apa Oma?” tanyaku lagi,

“Kalau itu Oma ngga tau, itu sudah tradisi… jadi Oma hanya ya gitu” jelasnya,

Setelah pak RT menutup acara dan warga mulai mengantarkan, tepat sebelum diantarkan, anggota keluarga yang ditinggalkan berjalan dibawah keranda selama beberapa kali, entah filosofinya apa tetapi ini benar-benar first time aku seakan terpesona dengan tradisi yang barusaja aku lihat. Biasanya kan kalau di tempat aku tuh jenazah selesai di shalati, segera dikebumikan tidak pernah ada tradisi apa yang berarti.

Ya gitu aja sih, aku bisa berbagi tulisan ini di blog ku disela-sela KKN ku yang belum selesai. Tunggu tulisan-tulisanku tentang KKN yang lain ya, semoga tidak malas mengupdate. Btw, sinyal agak susah disini jadi, kemungkinan upload di kota nanti.

REVIEW DRAMA

Malam ini, aku bakal nulis drama Korea yang genre nya misteri penuh teka teki, gak dikasih kendor, meleng dikit gatau ceritanya gimana hehe

Jadi, hari Minggu kemarin drama favorit aku sudah tamat 16 episode. Sedih rasanya belum nemuin drama pengganti buat tontonanku. Semenjak nonton series Sherlock Holmes season 123 dengan pemain Benedict Cumberbatch plus yang seri pemain Robert Downey kalo gak salah penulisannya hehe jadi suka aja sama drama atau film yang berliku liku gitu. Nah, di ranah ini aku bakal bahas yang Korea ya khususnya drama. Langsung saja ini dia..

  1. Signal

Hasil gambar untuk drama signal

Ya, drama pertama yang bikin aku pertama kali jatuh cinta sama genre misteri ini dia, Signal. Awalnya tuh aku kehabisan tontonan drama, jadi aku iseng download aja deh. Posisi waktu itu tengah malem dan aku nonton sendirian, dan anjir ini bikin nakutin. Dari kualitas video nya chanel TvN ya taulah agak kurang bagus hehe jadi agak kurang menarik buat ditonton, awalnya…

Tapi setelah berjalan 1234 episode, aku mulai terbawa cerita dan selalu menunggu kehadiran episode lanjutannya. Drama yang sedang tayang bersama saat itu aku lupa apa ya, jadi tontonan nomor dua ku, karna posisi pertama direbut oleh si Signal ini. Drama ini jg kurang menarik aku karena pemainnya tidak ada yang aku kenal hehe tapi… kualitas cerita menyelamatkan mereka. Dari sini, aku belajar tidak menilai buku dari cover tapi isi.

Hm, cukup ceritanya. Sekarang aku mau bahas cerita dari drama Signal ini hehe

Drama ini mengisahkan tentang perjalanan tembus waktu masa lalu melalui walkie talkie. Tokoh utama bernama Park Hae Young adalah seorang anggota polisi profiler baru. Dia ingin mengungkap kebenaran atas kematian sang kakak, ia masuk dalam bidang Kasus Dingin yaitu bagian yg mengungkap kasus yang hampir tidak terpecahkan atau hampir mendekati masa batas waktu bahkan lebih dari masa batas waktu, tetapi ia justru terhubung dengan anggota kepolisian yang telah meninggal namun terhubung lewat walkie talkie pada tahun 1980an (putar waktu). Selama perjalanan mencari kebenaran, Park Hae Young dan detektif Lee Jae Han (detektif masa lalu) memecahkan banyak masalah dimana petunjuk masa lalu dijadikan petunjuk di masa depan dan sebaliknya, sehingga petunjuk/kasus di masa depan yang belum ada di masa lalu bisa dicegah dan sebaliknya kasus masa lalu bisa dipecahkan di masa depan.

Drama ini gak ada lucunya, guyon disini terasa garing karena bobot ceritanya yang serius sehingga susah untuk dibuat tawa jokes yang ada disini. Kalian yang suka cerita model beginian boleh banget dicoba, yang gak suka drama Korea juga boleh banget nonton. Ini bukan masalah Korea atau bukan, tapi kita nilai dari segi cerita.

2. Voice

Hasil gambar untuk drama voice

Drama ter-sadeeees yang pernah aku tonton nih. Yap, Voice ini mengisahkan tentang anggota polisi bernama Kang Kwon Jo (Kang Center) yang bertugas dibagian laporan 911 khas Korea menangani kasus seperti penculikan dll dengan memberikan intruksi bagaimana cara menjaga diri kepada korban selagi tim penyelamat datang. Detektif Kang ini memiliki kelebihan yaitu dapat mendengar suara sekecil apapun dan menggambarkan situasi ditempat yang hanya ia dengar melalui barang atau suara orang disekitarnya. Drama ini berusaha mengungkap pembunuh berantai dengan ciri suka menggertakan giginya yang tega membunuh orang dengan menggunakan bola besi dan menyiksanya sebelumnya. Kang Center bekerjasama dengan Detektif lain (lupa nama) yang diperankan oleh Jang Hyuk yang awalnya menuduh Kang Center telah melakukan kesaksian palsu atas meninggalnya isterinya yang juga korban dari pembunuhan berantai tersebut.

Tokoh antagonis disini ganteng ganteng serem gitu si Kim Jae Wook, karena aku dah tau cowonya jadi makin suka aja di drama ini, malah berharap dia suka sama si Kang Center karena menurut aku cocok sih kalo dipasangin. (Berharap ada sdikit romance) ternyata tidak ada bumbu lain selain thriller.

Wah kalo ngomongin ini drama bakal kompleks banget. Drama tersadis, dimana banyak adegan thriller yang disajikan. GAK DIKASIH NAPAS kalo nonton ini drama, baru satu episode aja udah dibikin ngos ngosan, dua episode menyelasaikan satu masalah. Temen-temen aku yang cowok aja pada nonton ini drama, padahal gak suka korea-koreaan ato kpop. Jadi, buat kalian yang penasaran bisa tonton aja ini drama.

3. Tunnel

Hasil gambar untuk drama tunnel

Drama bertajuk lorong waktu ini juga cukup menarik untuk dinikmati sebagai sajian mata. yang memutar otak. Drama ini mengisahkan pengungkapan pembunuh berantai yang meninggalkan jejak titik seperti tato pada setiap korbannya, jumlah titik sesuai dengan urutan korban ke berapa. Detektif masa lalu yang berusaha mencari pelaku menemukan si pembunuh di terowongan namun saat mereka berkelahi dan si detektif melakukan pengejaran tiba-tiba ia masuk dimensi waktu lain yang tadinya di tahun 1970an menjadi tahun 2017. Jasad detektif yang dipikir telah meninggal tidak ditemukan dimana pun di masa lalu, akhirnya ia pun melakukan pencarian si pembunuh di masa 2017 dengan teman kepolisian yang mana banyak masalah saat ia baru masuk ke kantor polisi tersebut. U can imagine.

Drama ini nggak se spaneng yang no. 1 dan 2, karena ada bumbu romance nya dikit, dikit tapi bikin aku pribadi pengen ngerasain digituin wkwk

4. Secret Forest

Hasil gambar untuk drama secret forest

Drama terakhir ini, drama yang barusaja selesai aku tonton karena hari Minggu kemarin tuntas 16 episode. Drama ini berkisah seorang jaksa yaitu Hwang Shi Mok yang tidak memiliki emosi dalam jiwanya sehingga orangnya datar gitu tapi karena itu dia orang yang bersih tidak mudah terpengaruh dan orang yang mempengaruhi pun males ndeketinnya wkwk berusaha mengungkap kasus pembunuhan juga namun ada sangkut paut sama petinggi pejabat kejaksaan Korea gitu. Ada lucunya ini, tapi tetep ceritanya dibungkus dengan apik. meleng dikit buyar. Lucunya disini karena si detektif tidak memiliki sisi emosional maka Inspektur Han membantu Shi Mok untuk tersenyum. Beberapa kali kalian bakal dibuat salah tebak. aku nebak salah semua.

 

Nah, 4 Drama itu aku rekomendasiin banget buat yang pengin nonton genre misteri. Selain itu ada banyak banget, tapi menurut aku 4 drama itu yang paling megang juara di hati aku buat genre misteri. Kalo diurutin tuh, ini ranking nya versi aku :

  1. Voice
  2. Signal
  3. Secret Forest
  4. Tunnel

Silahkan dicoba…

KOPI DAN KONTEN

Gak kerasa, tahun ketiga masa kuliah udah mau abis. Bakal ganti tahun keempat. Gimana ya, masa boleh menua tapi jiwa tetap serasa muda. Jadi gini…

Malam sabtu lalu, aku dan sahabatku Pipin memutuskan untuk mencoba satu kafe yang direkomendasikan oleh bang Bernard Batubara di Jogja. Buat yang suka nonton film bukan cuma luarnya aja alias tau dalemnya juga pasti tau siapa dia (read: Bang Bernard).

Awalnya, seperti biasa berkat sosial media terbaik dan terfavorit, ya Twitter. Aku adalah netizen/warganet yang lebih suka mendiami habitat Twitter ketimbang sosial media lainnya walaupun aku punya sosmed selain Twitter. Aku sering melihat cuitan Bang Benz di sosmed burung biru itu. Akhir-akhir ini, dia suka bahas kopi gitu. Dia banyak cerita tentang kopi dan beberapa kali merekomendasikan tempat ngopi yang asik buat ngerjain tugas dilihat dari segi kenyamanan tempat, wifi, lokasi dan harga. Namanya juga Yogyakarta, kota pelajar. Hampir bukan pemandangan asing melihat banyak tempat tongkrongan/kafe kelas bawah, menengah dan atas isinya manusia sama laptop masing-masing. Bahkan, sekelas restoran cepat saji di kota ini pun jadi tempat ‘nugas’. Mungkin bisa disimpulkan selama nyaman, banyak colokan dan wifi mandraguna maka disitulah akan menjadi tempat bersemayam para mahasiswa yang mencoba mengerjakan tugasnya karena boring mengerjakan tugas dengan suasana kampus atau kos yang memiliki ruang sempit. Oke, cukup…

Singkatnya, Bang Benz hari itu merekomendasikan Kuban Coffee yaitu salah satu kafe dengan menu perkopian. Aku dan Pipin segera meretweet dan berbalas tweet alias mention mengiyakan ajakan. Pukul 6.45 an kita otw ke sana. Yap. Sebenernya aku dah tau sih tempat ini cuman karena lokasinya di ringroad utara kan agak kurang menarik sama ku pikir mahal haha karena bangunan kafenya cukup unik sodara sodaraku… kalian bisa searching aja lah di mesin pintar terpopuler abad ini, ya Google.

Sesampainya disana, ku parkir sepeda dua roda buatan Jepang ini. Masuk ke lantai pertama, terdapat bar dan sedikit kursi dan meja lurus menghadap jalan raya ringroad yang ramai itu. Baristanya, untuk ukuran kafe ya ganteng wkwk. Menunya tidak terlalu banyak tapi spesifik sekali. Orang yang membaca menurut aku bisa tau gambaran menunya tidak menerka-nerka. Aku dan pipin pun pilih menu:

Tiramisu Latte dan Espresso

Untuk harga berkisar RP 20.000-an ya tergolong harga menengah tapi standar untuk harga sekelas kafe model begitu. Wifi kenceng lumayan, colokan banyak, cozy, nyaman, dan ga terlalu rame juga disapa udara malam dengan mesra. Hanya saja toiletnya not recomended sodara…

Kira-kira begitu gambaran tempatnya, jadi kafe ini bangunannya meninggi. Tidak ada lantai bawah yang ada lantai 1 dan 2. Jadi saat pertama kali datang, kita akan masuk dengan mnaiki tangga kemudian ada bar untuk memesan (Pay and Order Here) disitu juga terdapat tempat untuk menikmati kopi hanya terbatas. Setelah itu, menaiki tangga lagi dan itu adalah tempat yang tidak terlalu luas tapi cukup worth it buat mengekspresikan apa yang pengin kamu lakuin disitu. Kebetulan kita pilih tempat duduk dipinggir balkon agar bisa menikmati pemandangan jalan raya yang cukup crowded malam itu.

Kita ngobrol banyak hal, mulai dari bahas “why, kita dipertemukan dengan pandangan, pemikiran dan beberapa hal lain yang sama. Habitatnya sama-sama di twitter. Suka nulis juga, cuma aku agak kurang suka membaca novel beda dengan Pipin yang suka baca novel, bertukar ide pikiran, gagasan yang cukup berguna dan topik yang bukan melulu tentang sesuatu yang useless.

Hingga angka jam di laptop bergerak ke 22.30 WIB, kita mulai mengantuk dan yah kita memutuskan untuk pulang karena kita merencanakan untuk mengisi sabtu pagi dengan olahraga air. Sejak itu, kita mulai tertarik dengan dunia kopi. Bukan karena sedang nge-hits nya film Filosofi Kopi loh ya. Sebenarnya juga, kita membahas tentang masing-masing blog kita pribadi, aku agak lumayan lama jarang update tulisan di sini karena I think, privacy so I can’t expose. 

Jadi, aku bingung, tulisan ini adalah bentuk ‘Kopi untuk Konten atau Konten untuk Kopi”

Sekian.